Bau Mulut Saat Bulan Puasa

Bau Mulut Saat Bulan Puasa

URTI 14 Mei 2019

Bau Mulut Saat Bulan Puasa

Rahmi Amtha, Indrayadi Gunardi, Marcia

Bagian Penyakit Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

1. Original

 

Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat islam. Selama satu bulan puasa, seluruh umat islam melakukan puasa makan minum sejak imsak hingga magrib. Bau mulut dikenal sebagai halitosis atau malodor, adalah bau mulut yang keluar dari pernapasan melalui mulut. Bau mulut saat bulan puasa merupakan salah satu keluhan yang paling sering disampaikan kepada dokter gigi dan kondisi yang paling umum terjadi pada semua orang yang menjalaninya. Keluhan ini secara langsung atau tidak langsung dapat menyebabkan hambatan sosial dan gangguan psikologik bagi penderitanya.

Berdasarkan klasifikasi halitosis, dapat dibagi menjadi genuine halitosis (halitosis sebenarnya) dan delusional halitosis (halitosis palsu/delusi).

Genuine halitosis atau halitosis sesungguhnya adalah bau mulut yang timbul baik dari proses fisiologik (seperti bau mulut saat bangun pagi) maupun patologik (disebabkan oleh suatu infeksi/penyakit). Delusional halitosis dapat berupa pseudohalitosis dan halitophobia, adalah bau mulut yang hanya dirasakan pasien saja dan dapat diatasi oleh dokter gigi melalui konseling dan tindakan perawatan gigi mulut. Pseudohalitosis dan halitofobia hanya dirasakan pasien saja tanpa ditemukan tanda nyata penyebab dan orang lain tidak merasakan bau mulut tersebut.

Penyebab patologis halitosis sesungguhnya (genuine halitosis) dapat berasal dari 2 kemungkinan yaitu pertama berasal kondisi patologis rongga mulut dan kondisi patologis organ pernapasan (87%), yang kedua berasal dari kondisi sistemik (13%).

Kondisi patologis dalam rongga mulut meliputi : Kebersihan mulut yang buruk (plak dan karang gigi), gingivitis (radang gusi), periodontitis (radang jaringan penyangga gusi), lapisan keputihan lidah tebal, penurunan jumlah air liur (saliva), mulut kering, kebiasaan merokok, minum alkohol atau menyirih. Sedangkan penyebab lain yang berkontribusi pada udara yang keluar dari saluran dan dapat menimbulkan bau mulut antara lain kebiasaan makan atau minum jenis tertentu yang berbau (petai, jengkol, durian, alkohol, teh, kopi, dll). Selain itu juga jika mengkonsumsi obat-obatan (golongan phenothiazides, amphentamines, antihistamin, metronidazole dll) (Udity K, dkk.2016)

Kondisi sistemik yang mempengaruhi terjadinya bau mulut antara lkain adalah penyakit Diabetes Melitus, Liver, Ginjal, Keganasan darah, Abses paru, Sipilis, dan lain lain.

Halitosis dapat menyerang semua usia, namun pada anak dari semua penyebab tersebut diatas gigi berlubang dan kebiasaan bernapas lewat mulut sering kali menjadi penyebab bau mulut.

 

Mengapa halitosis meningkat pada saat puasa :

Dengan melakukan puasa, maka konsumsi air dan makanan akan berkurang dan menyebabkan laju aliran saliva menjadi menurun, saliva menjadi lebih kental. Selain itu dengan adanya penurunan asupan air, maka sisa makanan, epitel mukosa mulut yang sudah lepas dan saliva lebih mudah menempel terutama pada permukaan lidah. Deposit sisa makan akan digunakan oleh bakteri mulut untuk menghasilkan komponen sulfur volatil. Komponen sulfur volatil yang menjadi penyebab bau mulut, dapat dibagi menjadi metil merkaptan, dimetil sulfida, dan hidrogen sulfida. Disamping komponen sulfur volatil yang mencapai 90% bau mulut, ada pula komponen lain yang konsentrasinya lebih rendah di dalam mulut, seperti poliamin (putresin dan kadaverin) dan asam lemak rantai pendek (asam butirat, asam valerat dan asam propionik). Bakteri Prevotella intermedia, Prevotella nigrescens dan Treponema denticola akan berkorelasi dengan tinggi rendahnya kadar hidrogen sulfide sedangkan jumlah bakteri Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, dan Tannerella forsythensis akan berkorelasi dengan kadar metil merkaptan.  

 

Hal - hal khusus lainnya yang dapat menyebabkan halitosis seperti veneer, dll

Selain itu bau mulut juga dapat meningkat pada penggunaan gigi tiruan lepasan yang tidak dilepas dan jarang dibersihkan. Hal ini disebabkan karena deposit sisa makanan dan debris pada permukaan gigi tiruan dan mukosa mulut yang berkontak dibawah gigi tiruan. Gigi tiruan cekat (mahkota jembatan, crown, veneer)  atau mahkota gigi tiruan yang tidak dapat dilepas, juga dapat menjadi tempat  deposit sisa makanan pada daerah leher gigi tiruan tersebut jika mekanisme pembersihan mulutnya  tidak tepat. Penumpukan sisa makanan dalam jangka waktu lama, menyebabkan pembentukkan karang gigi disekitar leher gigi dan menyebabkan penyakit jaringan gusi dan jaringan pendukung gigi yang keduanya juga merupakan sumber  terjadinya bau mulut.

 

Bagaimana cara mengatasi halitosis dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah halitosis:

Untuk menghindari timbulnya dan mengatasi bau mulut, perlu dilakukan kunjungan terlebih dahulu ke dokter gigi untuk mengetahui penyebabutama terjadinya halitosis.  Perawatan gigi mulut seperti skeling, penambalan gigi berlubang, pencabutan sisa akar dan bahkan perawatan jaringan periodontal (pendukung gigi), adalah tindakan utama yang dapat membantu mengurangi bau mulut. Penyikatan gigi dan lidah (jika perlu) sebaiknya juga dilakukan minimal 2 kali setiap hari pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, menggunakan pasta gigi. Penggunaan obat kumur dapat membantu mengendalikan jumlah mikroorganisme mulut sehingga dapat mengurangi pembentukkan volatile sulfur compound (VSC) yang khas sebagai komponen utama bau mulut.

 

Apakah boleh menggunakan mouthwash setiap hari?

Obat kumur adalah larutan yang berisi bahan aktif yang mempunyai tujuan tertentu. Sebagian besar obat kumur dibuat untuk mencegah perkembangbiakan bakteri (sebagai larutan antiseptik) namun ada juga sebagai larutan untuk menurunkan peradangan pada jaringan lunak. Oleh karenanya perlu diperhatikan pemilihan obat kumur yang sesuai dengan kandungan bahan aktif didalamnya.

Banyak penerlitian yang sudah dipublikasikan bahwa penggunaan obat kumur yang mengandung bahan aktif iodine 1%, klorheksidin glukonat atau diglukonat 0,1 – 0,2%, minyak esensial, aloe vera, polyvinylpyrrolidone, cetylpyridinium chloride ataupun klorin dioksida dapat mengurangi jumlah bakteri dalam mulut penghasil komponen sulfur volatile yang  menjadi penyebab bau mulut. Hingga saat ini belum ada keseragaman berapa lama pemakaian obat kumur yang aman untuk mengatasi bau mulut, masing-masing obat kumur memiliki efektivitasnya tersendiri. Kisaran waktu yang aman dari berbagai obat kumur bervariasi dari 7 hari sampai 3 bulan bahkan ada yang mengklaim aman hingga bertahun-tahun. Pemilihan jenis obat kumur yang efektif terhadap bakteri aerob adalah klorheksidin, sedangkan terhadap bakteri aerob dan anaerob adalah povidon iodine (Kaur R dkk, 2014).

Obat kumur yang mengandung bahan pelarut alkohol dapat menyebabkan penebalan mukosa mulut menjadi berwarna putih.  Obat kumur jenis lain jika digunakan dalam jangka waktu lama, dapat menyebabkan staining atau bercak kehitaman pada gigi, perubahan rasa pengecapan lidah, pengelupasan mukosa mulut (Chakraborty, 1998).

Pilihan lain untuk obat kumur adalah penggunaan probiotik baik dalam bentuk table ataupun obat kumur. Obat kumur yang mengandung bahan probiotik S. salivarius K12 yang dapat menghasilkan enzim untuk menghambat pertumbuhan bakteri penghasil VSC (Gunardi dan Wimardhani, 2009)

 

Mouthwash apa yang direkomendasikan untuk mengatasi halitosis? Dan berapa lama dapat digunakan? Apa yang terjadi jika kita terlalu lama atau sering menggunakan mouthwash?

Obat kumur yang direkomendasikan untuk mengatasi bau mulut tergantung indikasi kasus yang ditemukan dalam mulut penderitanya, karena bau mulut tidak dapat diatasi jika faktor penyebab utamanya tidak dihilangkan. Obat kumur digunakan sebagai bahan kimia yang membantu menyempurnakan pembersihan mekanik atau menyikat gigi. Disarankan memilih obat kumur yang mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri dengan spektrum luas dan dapat mengikat sulfur sebagai produk utama bau mulut.  Berapa lama dapat digunakan kembali ke kondisi dalam mulut masing-masing penggunanya. Jika kondisi patologis dalam mulutnya masih ada, maka obat kumur dapat dipakai untuk membantu menyempurnakan perawatannya. Namun jika untuk pemakaian sehari-hari (dalam jangka waktu yang lama), seperti untuk menyegarkan nafas maka disarankan memilih obat kumur yang tidak menyebabkan staining (pewarnaan) dan perubahan pengecap rasa.    

 

Kapan waktu yang disarankan untuk menggunakan mouthwash saat puasa.

Waktu yang tepat menggunakan obat kumur saat puasa atau sesuai indikasi adalah setiap sesudah sahur/sarapan dan sebelum tidur malam.

 

Reference:

Kaur R, Singh I, Vandana KL1, Desai R. Effect of chlorhexidine, povidone iodine, and ozone on microorganisms in dental aerosols: randomized double-blind clinical trial. Indian J Dent Res. 2014 Mar-Apr.

Chakraborty S. Halitosis and mouthwashes. Med J Armed Forces India. 1998 Jul; 54(3): 289–290.

Gunardi I, Wimardhani YS. Oral Probiotik: Pendekatan Baru Terapi Halitosis. Indonesian J Dent 2009;16(1):64-71.

Uditi Kapoor, Gaurav Sharma, Manish Juneja, Archna Nagpal. Halitosis : Current concepts on etiology, diagnosis and management. European Journal of Dentistry.2016;10(2):292-300.

Scully C. Halitosis. BMJ Clin Evid 2014;2014. pii: 1305.


 

ID-973/BETA/371/0519